Sunday, October 1, 2017

Gegar otak, Gegar hati

2 hari setelah baca buku Counterfeit Gods, yang membongkar janji2 kosong dari uang, seks dan kekuasaan, serta berhala2 palsu dari Timothy Keller

Saya mengalami gegar otak & gegar hati. Bukan gegar secara fisik. Namun kepala dan hati ini terasa tidak konek. Alhasil, saya sulit untuk menjalankan pekerjaan sebagaimana biasa saya lakukan.

Bahan bakar yang sering saya pakai dalam memotivasi saya dalam bekerja sebagai marketing di perusahaan otomotif, seringkali saya ambil dari motivator2 terkenal.

Motivator2 itu berbicara tentang hal2 yang baik.  Namun atas karunia Tuhan, saya dapat mengerti bahwa motivasi2 yang baik itu, sebenarnya berpusat kepada diri saya dan untuk kemuliaan saya.

Tidak ada Tuhan di dalam pekerjaan saya, jika sayalah yang menjadi ilah yang saya sembah. Tidak ada kerajaan Tuhan, jika semua hal2 baik yang saya agungkan dalam perkerjaan adalah untuk rencana saya semata, untuk memuaskan cita2 saya.

Saya hidup untuk diri saya. Itulah yang membuat kita merasa Tuhan tidak ada. Karena kita menaruh diri kita di singgasana hati yang seharusnya menjadi tempat Tuhan bersemayam.

Alkitab berkata bahwa jika kita mengasihi dunia dan segala yang ada di dalamnya, maka kasih akan Bapa tidak akan ada dalam kita. Dan dunia ini sedang lenyap beserta segala keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah, akan hidup selama-lamanya.

Karena gegar otak dan hati ini, saya kembali diingatkan, bahwa hidup saya di dunia ini adalah untuk menjalankan pekerjaan yang Tuhan kehendaki untuk saya kerjakan, bukan untuk melayani kehendak diri saya sendiri.

Kini di antara pecahan otak dan hati saya, saya bergumul untuk kembali taat menyusun fragmen2 dalam hidup saya agar semua hanya didasarkan dan untuk melayani kehendakNya saja.

Bahkan jika untuk melakukan kehendak-Nya, saya harus melangkah menjauh dari kemahsyuran, tidak menjadi makmur, tidak berkarir, tidak punya tempat tinggal tetap, menjadi orang yang menjadi berkat bagi masyarakat yang lebih luas, dan taat melaksanakan apapun yang Tuanku mau, maka seharusnya saya taat.

Mudah dikata, sukar dipahami, penuh tanda tanya, serasa gila, drastis, ekstrim..

Tetapi mungkin inilah satu2nya jalan agar saya dapat kembali mengalami kasih mula-mula itu, yang pernah saya alami, dimana semua yang saya inginkan hanya Dia saja.