Beberapa waktu lalu, santer di Twitter, sebuah akun yang menamai dirinya forum komunikasi wiraniaga dari sebuah dealer otomotif terkemuka. Akun yang tidak gamblang menyatakan identitas dirinya itu men-tweet berbagai cerita seputar profesi duka wiraniaga dan menumpahkan uneg-uneg yang dirasakan dalam menekuni profesi wiraniaga di perusahaan tersebut. Tidak hanya menjadi media untuk penumpahan uneg-uneg, akun Twitter tersebut juga memakai nama personal beberapa orang terkemuka, seolah-olah opininya adalah sesuatu yang akan didukung oleh orang-orang tersebut (yang saya yakini 100% sebaliknya).
Saya mencoba menelusuri apa motif dan tujuan akun twitter tersebut dibuat dengan mencermati kicauan-kicauan yang dilontarkan. Seringkali terucap keluhan-keluhan yang seperti mengatasnamakan solidaritas karyawan yang dalam beberapa "chirp" terkesan termarjinalkan. Beberapa kicauan dengan bulat-bulat seperti mengadakan solidaritas untuk melakukan "revolusi karyawan" di tubuh perusahaan. Kicauan yang lain dengan lantang mengajak pembacanya seolah untuk ikut mendukung opini tertentu terhadap perusahaan.
Munculnya kicauan dengan isi vulgar dan persepsi unik ini, membuat kami yang berprofesi sebagai wiraniaga merefleksikan sesuatu. Kami mulai mendiskusikan tema-tema seputar dunia pekerjaan dan profesi berikut suka dan dukanya. Pekerjaan sebagai wiraniaga di dealer otomotif terkemuka, tidak hanya memberikan suka tetapi juga duka. Ketika kami menelusuri tema-tema kicauan akun ambigu ini, ada beberapa "adegan" yang juga pernah kami alami. Kicauan tersebut bukan hal yang baru. Tema-tema itu bukan omong kosong. Ada kebenaran dari curhatan tersebut.
Namun, ada satu hal yang jelas membedakan. Ada satu hal yang sangat signifikan yang membuat orang-orang tertentu seperti memiliki "nasib" yang berbeda dari adegan-adegan dan kisah-kisah dari Twitter berakun forum komunikasi wiraniaga ini. Apakah itu? Ya. Kami semua para wiraniaga mengalami kesulitan-kesulitan atau hambatan-hambatan yang saya yakini SAMA dengan yang dicuapkan akun forum komunikasi wiraniaga. Bedanya adalah bagaimana SIKAP kami terhadap tantangan yang SAMA yang dihadapkan, adalah hal yang membedakan.
Saya yakin, Viktor Frankl, Stephen Covey dan Arief Budiman setuju bahwa dalam kehidupan ini ada dua macam sikap. Pertama, menyikapi hidup dan hal-hal yang terjadi dalam hidup sebagai sebuah 'takdir'. Dengan menyikapi hidup seperti cara ini, seseorang akan pasif dan kehilangan kemampuan juang untuk keluar dari permasalahan. Orang dengan sikap pertama adalah orang yang tidak memiliki keyakinan diri yang sehat. Orang dengan sikap ini akan senantiasa memojokkan dirinya sebagai korban yang tanpa harapan. Orang dengan sikap seperti ini menjadi reaktif: orang yang tidak menggunakan pilihan dengan bertanggung jawab.
Contoh:
Orang yang malas dan tidak senang membantu orang lain, akan menimbulkan opini bahwa dia adalah seorang yang tidak bisa diandalkan. Karena sikapnya itu, maka secara perlahan dan pasti, tanggung jawab yang diembankan padanya mulai dikurangi... sampai akhirnya diberikan kepada orang yang menunjukkan dirinya mampu mengemban tugas tersebut. Akhirnya orang tersebut tidak menjadi apa-apa di tempat ia bekerja.
Kedua, menyikapi hidup dengan proaktif. Ya, memang kenyataan yang dialami orang dengan sikap hidup proaktif SAMA dengan yang dialami orang dengan sikap hidup pasif. Namun, berbeda secara Mindset. Orang dengan sikap hidup proaktif mampu memandang dirinya MAMPU memberi ANDIL untuk MENCIPTAKAN PERUBAHAN. Orang proaktif selalu melihat PILIHAN di dalam segala tindakannya menghadapi suatu situasi.
Lingkungan yang sama. Situasi yang sama. Orang-orang yang dihadapi sama. Tetapi prestasi bisa berbeda. Kelakuan bisa berbeda. Sikap bisa berbeda. Mengapa? Karena hidup adalah pilihan. Menjadi orang yang dicap "baik", "buruk", "bertanggung jawab", "rajin", "antusias", "malas", "helpful", "berintegritas" adalah PILIHAN. Selama kita tidak memilih untuk merubah sikap, cap tersebut akan senantiasa melekat. Karena kita semua bertanggung jawab atas opini orang dan lingkungan terhadap diri kita.

No comments:
Post a Comment