Berpikir positif, tidak sama dengan positivisme. Berpikir positif berarti berpijak pada realita, namun selalu berpedoman pada arah dan cita-cita yang ingin dicapai. Berpikir positif adalah seperti seorang nahkoda yang mengarahkan kapalnya dengan bantuan kompas untuk menuju sasaran yang direncanakan. Berpikir positif didasari oleh sebuah tujuan khusus, dan menjalankannya dengan pedoman khusus pula.
Berpikir positif berarti berpijak pada realita, karena berpikir positif tidak meniadakan hambatan-hambatan atau masalah yang terjadi dalam kenyataan. Sebaliknya, berpikir positif membuat seseorang memperkuat bangunan mentalnya ketika menghadapi masalah atau hambatan.
Berpikir atau berkata positif juga adalah sebuah makanan bagi mental kita. Pada saat kita menghadapi sebuah situasi, bangunan mental kita akan roboh / goyah, bila kesimpulan yang kita buat terhadap sebuah situasi adalah kesimpulan yang destruktif. Ketika kita diam tidak berkata secara verbal, pikiran kita terus bekerja dan berkata-kata. Dalam teori behavioristik yang kental, ahli behavioris percaya bahwa di dalam kepala kita ada pita suara kecil yang sedang berkata-kata sehingga bisa kita dengar dalam benak. Mekanisme "berpikir" bukanlah sesuatu yang behavioral. Para behavioris percaya bahwa jiwa adalah sesuatu yang measurable (dapat diukur) dan oleh karenanya bisa diobservasi. Menurut ahli behavioris, "pikiran" adalah sesuatu yang tidak ilmiah. Namun teori ini dipatahkan oleh teori linguistik yang didasari oleh filsafat kognitif modern. Bahwasanya "pikiran" adalah suatu percakapan di dalam diri kita terhadap sesuatu hal dan perilaku "berpikir" memiliki keberadaan yang valid dan tidak mungkin dapat dibuktikan oleh teori behavioristik.
Dalam menghadapi suatu situasi, apa yang kita katakan terhadap situasi tersebut, mempengaruhi sikap mental apa yang berkembang dalam diri kita dalam menghadapi situasi tersebut.
Contoh:
"Seorang sales merencanakan melakukan presentasi produk pada seorang calon prospek potensial yang tinggal di luar kota. Setelah melakukan phone call dan menawarkan janji temu untuk presentasi, Prospek tersebut mempersilahkan sang sales melakukan presentasi dan memberi waktu. Presentasi pun dilakukan dengan menggali kebutuhan hingga memunculkan dan memberikan solusi. Pada akhir presentasi, prospek tidak menyetujui untuk membeli. Lalu setelah dirasa tidak menemui titik deal, sang sales pun undur diri."
Tanya:
Menurut Anda, menghadapi respons prospek yang tidak membeli, apa yang dipikirkan sang sales yang sudah menghabiskan perjalanan jauh untuk sampai ke kediaman sang prospek yang diyakininya potensial?
Jujur, ini adalah adegan yang saya alami dalam bulan ini. Saya adalah sales tersebut. Kesempatan yang boleh diberikan pada saya untuk berkunjung, adalah sinyal positif untuk hubungan yang lebih lanjut. Memang beberapa bulan yang lalu sang prospek pernah menyatakan berminat untuk membeli sebuah TOYOTA FORTUNER untuk menunjang mobilitasnya sehari-hari. Maka menyambung minat yang pernah beliau sampaikan, saya yakin beliau akan membeli pada bulan ini dan tidak akan menolak untuk menerima presentasi produk. Perkiraan saya benar separuhnya. Beliau positif untuk saya temui. Namun tidak deal.
Saat melangkah undur diri dari kediamannya, saya yang sudah menempuh perjalanan jauh hingga ke pinggir kota ini - dalam kondisi lelah - menjadi sangat rentan untuk putus asa dan berpikir sia-sia. Namun dengan semangat yang menjadi komitmen saya untuk belajar berpikir positif, sambil melangkah turun ke parkiran, saya berkata kepada diri saya:
"Prospek ini PASTI BELI. Pasti. Hanya saya tidak tahu KAPAN dia akan memutuskannya."
Pada saat itu, saya bisa jatuh untuk berpikir: "Ah, usaha saya sia-sia. Saya buang waktu. Saya Bodoh."
Tetapi saya tahu bahwa kata-kata itu hanya akan melemahkan mental dan semangat saya untuk terus berusaha. Kata dan pikiran yang destruktif & negatif, adalah seperti menyiram air ke api yang menyala. Ia tak hanya memadamkan bara api, namun juga membuatnya sulit dinyalakan lagi. Sebaliknya kata-kata dan pikiran yang positif dan membangun, akan menjaga api semangat dan motivasi itu terus terjaga kehangatannya, dan kekuatannya tidak akan memupuskan usaha untuk menuju keberhasilan.
Menangkis pikiran negatif dan perkataan diri destruktif itu seperti
berperang dalam batin. Perang batin ini dimenangkan oleh orang yang
memutuskan untuk percaya kepada kata-kata yang positif dan membangun.
Karena mereka yang percaya kepada kata-kata yang positif, akan tetap
berdiri tegak dan memiliki semangat yang kokoh. Jadi, hati-hatilah
terhadap apa yang Anda katakan kepada diri Anda!
Kembali ke cerita, apa yang terjadi kemudian pada sang prospek ini? Sang prospek ini TIDAK membeli mobil TOYOTA FORTUNER. Tetapi suatu pagi beliau menghubungi saya untuk meminta saya membuatkan surat pesanan kendaraan TOYOTA AVANZA. Langsung. Tanpa negosiasi yang alot/ tarik-ulur. Beliau MENCARI SAYA, ketika ia memiliki kebutuhan untuk operasional. Beliau tidak mencari dealer terdekat, tapi langsung menghubungi HP saya.
Mengapa demikian? Kebulatan hati mendorong saya membuat janji temu dan lalu mewujudkannya dengan kenyataan hingga menghantar saya menemui beliau secara langsung di kediamannya yang jauh, telah MEMBELI HATI PELANGGAN. Semua ini secara mendasar dilandasi oleh positive thinking. Berpikir positif. Bertekad positif. Berencana positif. Mengeksekusi rencana positif ke dalam tindakan yang positif. Never stop. Jangan termakan oleh negasi pikiran. Tidak mempan terhadap destruksi. Just do it!
Berpikir dan bersikap positif, akan membawa diri kita ke pengalaman yang lebih jauh dan bermakna dari sekarang. Sales yang berpikir positif, tidak pernah akan mengeluh ketika dia tidak "deal" dengan prospek. Sales yang berpikir positif selalu memandang kehadiran dan effort-nya sebagai sesuatu yang bermakna besar bagi keberhasilan dirinya dan membawa kebaikan bagi orang lain. Sales yang berpikir positif memiliki keyakinan yang tinggi akan keberhasilan. Jika sales yang berpikir positif belum "deal", ia akan percaya bahwa suatu hari dia akan menghasilkan "deal". Sales yang berpikir positif akan memandang dirinya sebagai "pengaruh", sehingga ia meyakini bahwa setiap perilakunya akan menciptakan peluang penjualan.
" semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci,
semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut
kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Filipi 4:8)