2 hari setelah baca buku Counterfeit Gods, yang membongkar janji2 kosong dari uang, seks dan kekuasaan, serta berhala2 palsu dari Timothy Keller
Saya mengalami gegar otak & gegar hati. Bukan gegar secara fisik. Namun kepala dan hati ini terasa tidak konek. Alhasil, saya sulit untuk menjalankan pekerjaan sebagaimana biasa saya lakukan.
Bahan bakar yang sering saya pakai dalam memotivasi saya dalam bekerja sebagai marketing di perusahaan otomotif, seringkali saya ambil dari motivator2 terkenal.
Motivator2 itu berbicara tentang hal2 yang baik. Namun atas karunia Tuhan, saya dapat mengerti bahwa motivasi2 yang baik itu, sebenarnya berpusat kepada diri saya dan untuk kemuliaan saya.
Tidak ada Tuhan di dalam pekerjaan saya, jika sayalah yang menjadi ilah yang saya sembah. Tidak ada kerajaan Tuhan, jika semua hal2 baik yang saya agungkan dalam perkerjaan adalah untuk rencana saya semata, untuk memuaskan cita2 saya.
Saya hidup untuk diri saya. Itulah yang membuat kita merasa Tuhan tidak ada. Karena kita menaruh diri kita di singgasana hati yang seharusnya menjadi tempat Tuhan bersemayam.
Alkitab berkata bahwa jika kita mengasihi dunia dan segala yang ada di dalamnya, maka kasih akan Bapa tidak akan ada dalam kita. Dan dunia ini sedang lenyap beserta segala keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah, akan hidup selama-lamanya.
Karena gegar otak dan hati ini, saya kembali diingatkan, bahwa hidup saya di dunia ini adalah untuk menjalankan pekerjaan yang Tuhan kehendaki untuk saya kerjakan, bukan untuk melayani kehendak diri saya sendiri.
Kini di antara pecahan otak dan hati saya, saya bergumul untuk kembali taat menyusun fragmen2 dalam hidup saya agar semua hanya didasarkan dan untuk melayani kehendakNya saja.
Bahkan jika untuk melakukan kehendak-Nya, saya harus melangkah menjauh dari kemahsyuran, tidak menjadi makmur, tidak berkarir, tidak punya tempat tinggal tetap, menjadi orang yang menjadi berkat bagi masyarakat yang lebih luas, dan taat melaksanakan apapun yang Tuanku mau, maka seharusnya saya taat.
Mudah dikata, sukar dipahami, penuh tanda tanya, serasa gila, drastis, ekstrim..
Tetapi mungkin inilah satu2nya jalan agar saya dapat kembali mengalami kasih mula-mula itu, yang pernah saya alami, dimana semua yang saya inginkan hanya Dia saja.
Sunday, October 1, 2017
Wednesday, July 5, 2017
Learning from The TOP with Iskandar Gandawinata : Never say too old to learn
Never say too old to learn.
There are many older senior who work harder than you do.
Saya berkesempatan sharing dengan Pak Iskandar Gandawinata, usia beliau sudah tidak muda, tapi beliau adalah Sales Legend Toyota Indonesia bahkan dunia, dengan rekor penjualan retail lebih dari 20,000 unit.
Mungkin ada orang yang excuse dengan usia, entah alasannya sudah kepala 3, kepala 4, dst. Namun Pak Iskandar ini sudah kepala 6, dan beliau tetap semangat, optimis, terus menantang diri untuk tidak pernah puas.
Hayo. Apakah excuse-mu kawan? Usia? Fisik? Latar belakang ekonomi? Never say too old to learn, while there are plenty of older senior who still work harder than you do.
Many appreciate :)
There are many older senior who work harder than you do.
Saya berkesempatan sharing dengan Pak Iskandar Gandawinata, usia beliau sudah tidak muda, tapi beliau adalah Sales Legend Toyota Indonesia bahkan dunia, dengan rekor penjualan retail lebih dari 20,000 unit.
Mungkin ada orang yang excuse dengan usia, entah alasannya sudah kepala 3, kepala 4, dst. Namun Pak Iskandar ini sudah kepala 6, dan beliau tetap semangat, optimis, terus menantang diri untuk tidak pernah puas.
Hayo. Apakah excuse-mu kawan? Usia? Fisik? Latar belakang ekonomi? Never say too old to learn, while there are plenty of older senior who still work harder than you do.
Many appreciate :)
Sunday, July 2, 2017
Pelajaran Kepemimpinan (1): TAKE & GIVE
Pelajaran dari Presiden Joko Widodo, yg berhasil meraih komitmen OPM (Organisasi Papua Merdeka) untuk NKRI, dengan menurunkan harga BBM dan membangun jalan tol.
Apa kunci keberhasilan ini?
He definitely takes what he gives.
Demikian juga, hubungan team leader dan sales, hubungan tersebut kudu TAKE & GIVE.
Misal seorang PIC atau Sales Leader ingin timnya maju, atau sales ingin customer repeat dan referensi, dia tidak bisa cuma TAKE terus tapi juga harus GIVE.
Sebab benar pepatah "the more you give, the more you take" (dan juga benar pepatah "you pay peanut, you get monkey")
Take and give perlu imbang. Dan setiap ada janji, sekecil apapun harus dipenuhi, meski rugi. Karena itu yg jadi pegangan tim.. seluruh tim tertuju pada anda..
Mendadak menggurui hehe
Apa kunci keberhasilan ini?
He definitely takes what he gives.
Demikian juga, hubungan team leader dan sales, hubungan tersebut kudu TAKE & GIVE.
Misal seorang PIC atau Sales Leader ingin timnya maju, atau sales ingin customer repeat dan referensi, dia tidak bisa cuma TAKE terus tapi juga harus GIVE.
Sebab benar pepatah "the more you give, the more you take" (dan juga benar pepatah "you pay peanut, you get monkey")
Take and give perlu imbang. Dan setiap ada janji, sekecil apapun harus dipenuhi, meski rugi. Karena itu yg jadi pegangan tim.. seluruh tim tertuju pada anda..
Mendadak menggurui hehe
Wednesday, February 1, 2017
Menggumulkan KEPEMIMPINAN
Hati saya berkata: "Tidak ada kepemimpinan, yang tidak berasal dari TUHAN"
Kitab suci, yang saya percayai mengatakan "Tidak ada pemerintahan yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah."
Injil Lukas, menuliskan kata-kata Yesus yang berkata: ".. yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai PELAYAN."
Jikalau saya, atau siapapun, yang pada detik ini, diberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin, sekecil apa pun jabatan tersebut, itu adalah AMANAH.
Tuhan, di dalam kedaulatanNYA mengijinkan saya menjadi pemimpin. Walau pemimpin kecil, bukan struktural. Hanya PIC. Kepemimpinan yang saya yakini ditetapkan oleh Tuhan, sekecil dan sebesar apapun itu, adalah tanggung jawab kepada Tuhan.
Ada aspek tanggung jawab, di dalam amanah tersebut. Ada ide-ide yang harus digumulkan. Ada order yang harus diikuti alurnya. Pemimpin harus mau dipimpin.. Jika seorang berani memimpin, dia harus berani menyerahkan dirinya kepada OKNUM yang sesungguh2nya paling berwewenang dalam memimpinmu bahkan memimpin hidupmu, dialah TUHAN.
Pemimpin harus MAU DIPIMPIN oleh Tuhan, the supreme leader. Saya percaya, dari situlah baru seorang dapat memimpin. Dan, tanpa itu, tidak ada kebenaran. Saya harus meletakkan segala keangkuhan saya, dan merendahkan diri saya dihadapan TUHAN, pemilik waktu dan hidup saya. Dialah yang layak menerima segala puji dan hormat.
Saya harus bertanggung jawab kepada semua orang yang dipercayakan pada saya, pribadi lepas pribadi. Saya harus ingat, orang-orang ini, pribadi-pribadi ini, mereka satu-per satu berharga di mata Tuhan. Tuhan menghargai hidup, keluarga, ekonomi, status sosial, pergumulan mereka masing-masing.
Tuhan pula yang memberi mereka kesempatan bekerja, kesempatan berprofesi sebagai sales. Tuhan pula yang memberi saya kesempatan dan jalan kepada saya melalui pekerjaan sebagai sales. Tuhan yang mengaruniakan waktu kepada kami, para sales, untuk menikmati dan mensyukuri segala kebaikanNya, yang disampaikan lewat WAKTU dan UANG yang kami olah dan hasilkan.
Tuhan memberi kami TALENTA berupa waktu, tenaga, pengalaman, kesulitan, pergumulan, tantangan, atasan dengan berbagai karakter, kebijakan perusahaan, pikiran untuk menangkap kontroversi, hati untuk mempertimbangkan etika dalam bekerja. Semua adalah anugrah.
Saya tidak boleh memperlakukan teman-teman ini dengan sesuka hati saya. Mereka adalah kepercayaan kepada saya, agar mereka menjadi berkembang, sukses, maju, bertambah ilmu, mampu bekerja benar, mampu memiliki SIKAP YANG BENAR dalam bekerja.
Saya harus, menularkan SIKAP terhadap pekerjaan dengan benar. Tidak asal-asalan. Saya harus menularkan Sikap hidup saya. Saya harus melakukan dan menjadi teladan. Saya harus melakukan dan menunjukkan caranya.
Maka tugas kepemimpinan ini, semestinya membuat saya gentar. Semestinya, dalam kepemimpinan, dalam kegentaran ini, sandaran saya hanya TUHAN. Dari pijakan inilah, sikap kepemimpinan saya harus dibangun. Permulaan hikmat, seperti kata Salomo, adalah takut akan TUHAN.
Dalam kitab keluaran pasal 18 ayat 21, Tuhan meminta Musa memilih pemimpin-pemimpin yang wajib memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Dicari dari seluruh bangsa yang keluar bersama-sama Musa (note: jumlah bangsa israel yg keluar dari Mesir adalah 2 juta orang)
2. Orang-orang yang cakap
3. Takut akan Allah
4. benci kepada pengejaran/ tidak terima suap
Ini adalah kriteria kepemimpinan yang Tuhan inginkan, dengan kondisi dimana Musa harus mencari orang-orang yang masuk di kriteria tersebut ditengah 2 juta orang. Dimana, pemimpin-pemimpin tersebut dicari untuk memimpin 10, 100 dan 1000 orang, sebagaimana saran dari pakar manajemen pertama di dunia, Yitro sekaligus mertua Musa.
Melalui pengalaman yang sudah lewat, dalam evaluasi saya, rasanya saya bukan pemimpin yang berhasil dan bukan pemimpin yang lancar.
Saya perlu memperbaiki hal-hal dasar. Dulu sebelum memimpin, saya merasa sombong dan mengira diri saya bisa. Tapi setelah berjalan 1,5 tahun, kebodohan-kebodohan saya muncul ke permukaan. Ternyata SAYA BELUM BISA MEMIMPIN DENGAN BENAR.
Saya bersyukur akhirnya, ada cara mengungkapkan kebodohan-kebodohan saya. Namun saya menyesalkan, mengapa terlambat sekali munculnya.
Saya harus menyusun ulang kepemimpinan, atau pengaruh (dalam definisi John C. Maxwell) ini, dengan strategi:
1. Menekankan bahwa: SIKAP dalam bekerja adalah dasar dari semua prestasi. Attitude yang benar, adalah bahan bakar keberhasilan. Attitude/ SIKAP adalah cara pandang seseorang terhadap hidup.
Dari pengalaman yang Tuhan anugrahkan kepada saya, yang dari seorang sales malas tidak punya tujuan hidup ini, SIKAP yang benar dalam bekerja ditumbuhkan, ketika saya bisa melihat dan mensyukuri kesempatan dan anugrah yang Tuhan berikan selama ini. Dimulai dari bersyukur.
Bersyukur untuk pekerjaan. Bersykur untuk gaji. Bersyukur untuk bos yang galak. Bersyukur untuk rule SOP yang ketat. Bersyukur untuk stres. BERSYUKUR KARENA DALAM SEGALA SESUATU, TUHAN BEKERJA UNTUK KEBAIKAN KITA.
Tuhan bukan Tuhan yang tinggal diam. Tuhan adalah TUHAN YANG PEDULI terhadap hidup kita. Sehelai saja rambut jatuh, Dia tahu.
Karena Tuhan peduli dengan hidup kita, TUHAN MENGGUNAKAN SEGALA SARANA untuk MENEGUR KITA. Dia memakai bos kita yang galak. Dia memakai kondisi penjualan yang sulit. Dia memakai kebiasaan buruk kita, yang ingin kita buang tapi tidak pernah berhasil. Dia memakai orang-orang terdekat, orang tua, istri, anak, untuk mengingatkan kita.
Tuhan mengasihi kita, melalui berbagai cara. Bodohlah jika kita tidak mendengar dan menafikan peringatanNYA. Tugas saya, sebagai pemimpin, adalah menjadi SAHABAT untuk mengingatkan suara-suara Tuhan yang selalu disuarakan kepada teman-teman ini, agar mereka sadar, melihat dengan jelas bahwa Tuhan itu baik, selalu memberi kesempatan, namun jika mereka tidak bertobat, resiko sudah menanti.
2. Membawa pribadi dan nama-nama mereka satu persatu dalam DOA. Ketika saya tidak mampu mengasihi seseorang, melalui DOA, melalui mengucapkan nama orang tersebut kepada Bapa saya di Surga, disitulah saya dimampukan mengasihi orang tersebut. Dari situlah, Tuhan membuka hati saya untuk care kepada orang tersebut.
3. Minta tolong pada TUHAN, untuk memberi saya hati seorang pelayan, yang peduli. Mau mengasihi, rela berkorban. Minta tolong kekuatan menjadi teladan. Minta tolong agar berhasil menularkan SIKAP yang benar dalam memandang hidup dan pekerjaan.
Kitab suci, yang saya percayai mengatakan "Tidak ada pemerintahan yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah."
Injil Lukas, menuliskan kata-kata Yesus yang berkata: ".. yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai PELAYAN."
Jikalau saya, atau siapapun, yang pada detik ini, diberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin, sekecil apa pun jabatan tersebut, itu adalah AMANAH.
Tuhan, di dalam kedaulatanNYA mengijinkan saya menjadi pemimpin. Walau pemimpin kecil, bukan struktural. Hanya PIC. Kepemimpinan yang saya yakini ditetapkan oleh Tuhan, sekecil dan sebesar apapun itu, adalah tanggung jawab kepada Tuhan.
Ada aspek tanggung jawab, di dalam amanah tersebut. Ada ide-ide yang harus digumulkan. Ada order yang harus diikuti alurnya. Pemimpin harus mau dipimpin.. Jika seorang berani memimpin, dia harus berani menyerahkan dirinya kepada OKNUM yang sesungguh2nya paling berwewenang dalam memimpinmu bahkan memimpin hidupmu, dialah TUHAN.
Pemimpin harus MAU DIPIMPIN oleh Tuhan, the supreme leader. Saya percaya, dari situlah baru seorang dapat memimpin. Dan, tanpa itu, tidak ada kebenaran. Saya harus meletakkan segala keangkuhan saya, dan merendahkan diri saya dihadapan TUHAN, pemilik waktu dan hidup saya. Dialah yang layak menerima segala puji dan hormat.
Saya harus bertanggung jawab kepada semua orang yang dipercayakan pada saya, pribadi lepas pribadi. Saya harus ingat, orang-orang ini, pribadi-pribadi ini, mereka satu-per satu berharga di mata Tuhan. Tuhan menghargai hidup, keluarga, ekonomi, status sosial, pergumulan mereka masing-masing.
Tuhan pula yang memberi mereka kesempatan bekerja, kesempatan berprofesi sebagai sales. Tuhan pula yang memberi saya kesempatan dan jalan kepada saya melalui pekerjaan sebagai sales. Tuhan yang mengaruniakan waktu kepada kami, para sales, untuk menikmati dan mensyukuri segala kebaikanNya, yang disampaikan lewat WAKTU dan UANG yang kami olah dan hasilkan.
Tuhan memberi kami TALENTA berupa waktu, tenaga, pengalaman, kesulitan, pergumulan, tantangan, atasan dengan berbagai karakter, kebijakan perusahaan, pikiran untuk menangkap kontroversi, hati untuk mempertimbangkan etika dalam bekerja. Semua adalah anugrah.
Saya tidak boleh memperlakukan teman-teman ini dengan sesuka hati saya. Mereka adalah kepercayaan kepada saya, agar mereka menjadi berkembang, sukses, maju, bertambah ilmu, mampu bekerja benar, mampu memiliki SIKAP YANG BENAR dalam bekerja.
Saya harus, menularkan SIKAP terhadap pekerjaan dengan benar. Tidak asal-asalan. Saya harus menularkan Sikap hidup saya. Saya harus melakukan dan menjadi teladan. Saya harus melakukan dan menunjukkan caranya.
Maka tugas kepemimpinan ini, semestinya membuat saya gentar. Semestinya, dalam kepemimpinan, dalam kegentaran ini, sandaran saya hanya TUHAN. Dari pijakan inilah, sikap kepemimpinan saya harus dibangun. Permulaan hikmat, seperti kata Salomo, adalah takut akan TUHAN.
Dalam kitab keluaran pasal 18 ayat 21, Tuhan meminta Musa memilih pemimpin-pemimpin yang wajib memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Dicari dari seluruh bangsa yang keluar bersama-sama Musa (note: jumlah bangsa israel yg keluar dari Mesir adalah 2 juta orang)
2. Orang-orang yang cakap
3. Takut akan Allah
4. benci kepada pengejaran/ tidak terima suap
Ini adalah kriteria kepemimpinan yang Tuhan inginkan, dengan kondisi dimana Musa harus mencari orang-orang yang masuk di kriteria tersebut ditengah 2 juta orang. Dimana, pemimpin-pemimpin tersebut dicari untuk memimpin 10, 100 dan 1000 orang, sebagaimana saran dari pakar manajemen pertama di dunia, Yitro sekaligus mertua Musa.
Melalui pengalaman yang sudah lewat, dalam evaluasi saya, rasanya saya bukan pemimpin yang berhasil dan bukan pemimpin yang lancar.
Saya perlu memperbaiki hal-hal dasar. Dulu sebelum memimpin, saya merasa sombong dan mengira diri saya bisa. Tapi setelah berjalan 1,5 tahun, kebodohan-kebodohan saya muncul ke permukaan. Ternyata SAYA BELUM BISA MEMIMPIN DENGAN BENAR.
Saya bersyukur akhirnya, ada cara mengungkapkan kebodohan-kebodohan saya. Namun saya menyesalkan, mengapa terlambat sekali munculnya.
Saya harus menyusun ulang kepemimpinan, atau pengaruh (dalam definisi John C. Maxwell) ini, dengan strategi:
1. Menekankan bahwa: SIKAP dalam bekerja adalah dasar dari semua prestasi. Attitude yang benar, adalah bahan bakar keberhasilan. Attitude/ SIKAP adalah cara pandang seseorang terhadap hidup.
Dari pengalaman yang Tuhan anugrahkan kepada saya, yang dari seorang sales malas tidak punya tujuan hidup ini, SIKAP yang benar dalam bekerja ditumbuhkan, ketika saya bisa melihat dan mensyukuri kesempatan dan anugrah yang Tuhan berikan selama ini. Dimulai dari bersyukur.
Bersyukur untuk pekerjaan. Bersykur untuk gaji. Bersyukur untuk bos yang galak. Bersyukur untuk rule SOP yang ketat. Bersyukur untuk stres. BERSYUKUR KARENA DALAM SEGALA SESUATU, TUHAN BEKERJA UNTUK KEBAIKAN KITA.
Tuhan bukan Tuhan yang tinggal diam. Tuhan adalah TUHAN YANG PEDULI terhadap hidup kita. Sehelai saja rambut jatuh, Dia tahu.
Karena Tuhan peduli dengan hidup kita, TUHAN MENGGUNAKAN SEGALA SARANA untuk MENEGUR KITA. Dia memakai bos kita yang galak. Dia memakai kondisi penjualan yang sulit. Dia memakai kebiasaan buruk kita, yang ingin kita buang tapi tidak pernah berhasil. Dia memakai orang-orang terdekat, orang tua, istri, anak, untuk mengingatkan kita.
Tuhan mengasihi kita, melalui berbagai cara. Bodohlah jika kita tidak mendengar dan menafikan peringatanNYA. Tugas saya, sebagai pemimpin, adalah menjadi SAHABAT untuk mengingatkan suara-suara Tuhan yang selalu disuarakan kepada teman-teman ini, agar mereka sadar, melihat dengan jelas bahwa Tuhan itu baik, selalu memberi kesempatan, namun jika mereka tidak bertobat, resiko sudah menanti.
2. Membawa pribadi dan nama-nama mereka satu persatu dalam DOA. Ketika saya tidak mampu mengasihi seseorang, melalui DOA, melalui mengucapkan nama orang tersebut kepada Bapa saya di Surga, disitulah saya dimampukan mengasihi orang tersebut. Dari situlah, Tuhan membuka hati saya untuk care kepada orang tersebut.
3. Minta tolong pada TUHAN, untuk memberi saya hati seorang pelayan, yang peduli. Mau mengasihi, rela berkorban. Minta tolong kekuatan menjadi teladan. Minta tolong agar berhasil menularkan SIKAP yang benar dalam memandang hidup dan pekerjaan.
Subscribe to:
Comments (Atom)

