Wednesday, February 1, 2017

Menggumulkan KEPEMIMPINAN

Hati saya berkata: "Tidak ada kepemimpinan, yang tidak berasal dari TUHAN"

Kitab suci, yang saya percayai mengatakan "Tidak ada pemerintahan yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah."

Injil Lukas, menuliskan kata-kata Yesus yang berkata: ".. yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai PELAYAN."

Jikalau saya, atau siapapun, yang pada detik ini, diberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin, sekecil apa pun jabatan tersebut, itu adalah AMANAH.

Tuhan, di dalam kedaulatanNYA mengijinkan saya menjadi pemimpin. Walau pemimpin kecil, bukan struktural. Hanya PIC. Kepemimpinan yang saya yakini ditetapkan oleh Tuhan, sekecil dan sebesar apapun itu, adalah tanggung jawab kepada Tuhan.

Ada aspek tanggung jawab, di dalam amanah tersebut. Ada ide-ide yang harus digumulkan. Ada order yang harus diikuti alurnya. Pemimpin harus mau dipimpin.. Jika seorang berani memimpin, dia harus berani menyerahkan dirinya kepada OKNUM yang sesungguh2nya paling berwewenang dalam memimpinmu bahkan memimpin hidupmu, dialah TUHAN.

Pemimpin harus MAU DIPIMPIN oleh Tuhan, the supreme leader. Saya percaya, dari situlah baru seorang dapat memimpin. Dan, tanpa itu, tidak ada kebenaran. Saya harus meletakkan segala keangkuhan saya, dan merendahkan diri saya dihadapan TUHAN, pemilik waktu dan hidup saya. Dialah yang layak menerima segala puji dan hormat.

Saya harus bertanggung jawab kepada semua orang yang dipercayakan pada saya, pribadi lepas pribadi. Saya harus ingat, orang-orang ini, pribadi-pribadi ini, mereka satu-per satu berharga di mata Tuhan. Tuhan menghargai hidup, keluarga, ekonomi, status sosial, pergumulan mereka masing-masing.

Tuhan pula yang memberi mereka kesempatan bekerja, kesempatan berprofesi sebagai sales. Tuhan pula yang memberi saya kesempatan dan jalan kepada saya melalui pekerjaan sebagai sales. Tuhan yang mengaruniakan waktu kepada kami, para sales, untuk menikmati dan mensyukuri segala kebaikanNya, yang disampaikan lewat WAKTU dan UANG yang kami olah dan hasilkan.

Tuhan memberi kami TALENTA berupa waktu, tenaga, pengalaman, kesulitan, pergumulan, tantangan, atasan dengan berbagai karakter, kebijakan perusahaan, pikiran untuk menangkap kontroversi, hati untuk mempertimbangkan etika dalam bekerja. Semua adalah anugrah.

Saya tidak boleh memperlakukan teman-teman ini dengan sesuka hati saya. Mereka adalah kepercayaan kepada saya, agar mereka menjadi berkembang, sukses, maju, bertambah ilmu, mampu bekerja benar, mampu memiliki SIKAP YANG BENAR dalam bekerja.

Saya harus, menularkan SIKAP terhadap pekerjaan dengan benar. Tidak asal-asalan. Saya harus menularkan Sikap hidup saya. Saya harus melakukan dan menjadi teladan. Saya harus melakukan dan menunjukkan caranya.

Maka tugas kepemimpinan ini, semestinya membuat saya gentar. Semestinya, dalam kepemimpinan, dalam kegentaran ini, sandaran saya hanya TUHAN. Dari pijakan inilah, sikap kepemimpinan saya harus dibangun. Permulaan hikmat, seperti kata Salomo, adalah takut akan TUHAN.

Dalam kitab keluaran pasal 18 ayat 21, Tuhan meminta Musa memilih pemimpin-pemimpin yang wajib memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Dicari dari seluruh bangsa yang keluar bersama-sama Musa (note: jumlah bangsa israel yg keluar dari Mesir adalah 2 juta orang)
2. Orang-orang yang cakap
3. Takut akan Allah
4. benci kepada pengejaran/ tidak terima suap

Ini adalah kriteria kepemimpinan yang Tuhan inginkan, dengan kondisi dimana Musa harus mencari orang-orang yang masuk di kriteria tersebut ditengah 2 juta orang. Dimana, pemimpin-pemimpin tersebut dicari untuk memimpin 10, 100 dan 1000 orang, sebagaimana saran dari pakar manajemen pertama di dunia, Yitro sekaligus mertua Musa.

Melalui pengalaman yang sudah lewat, dalam evaluasi saya, rasanya saya bukan pemimpin yang berhasil dan bukan pemimpin yang lancar.

Saya perlu memperbaiki hal-hal dasar. Dulu sebelum memimpin, saya merasa sombong dan mengira diri saya bisa. Tapi setelah berjalan 1,5 tahun, kebodohan-kebodohan saya muncul ke permukaan. Ternyata SAYA BELUM BISA MEMIMPIN DENGAN BENAR.

Saya bersyukur akhirnya, ada cara mengungkapkan kebodohan-kebodohan saya. Namun saya menyesalkan, mengapa terlambat sekali munculnya.

Saya harus menyusun ulang kepemimpinan, atau pengaruh (dalam definisi John C. Maxwell) ini, dengan strategi:

1. Menekankan bahwa: SIKAP dalam bekerja adalah dasar dari semua prestasi. Attitude yang benar, adalah bahan bakar keberhasilan. Attitude/ SIKAP adalah cara pandang seseorang terhadap hidup.

Dari pengalaman yang Tuhan anugrahkan kepada saya, yang dari seorang sales malas tidak punya tujuan hidup ini, SIKAP yang benar dalam bekerja ditumbuhkan, ketika saya bisa melihat dan mensyukuri kesempatan dan anugrah yang Tuhan berikan selama ini. Dimulai dari bersyukur.

Bersyukur untuk pekerjaan. Bersykur untuk gaji. Bersyukur untuk bos yang galak. Bersyukur untuk rule SOP yang ketat. Bersyukur untuk stres. BERSYUKUR KARENA DALAM SEGALA SESUATU, TUHAN BEKERJA UNTUK KEBAIKAN KITA.

Tuhan bukan Tuhan yang tinggal diam. Tuhan adalah TUHAN YANG PEDULI terhadap hidup kita. Sehelai saja rambut jatuh, Dia tahu.

Karena Tuhan peduli dengan hidup kita, TUHAN MENGGUNAKAN SEGALA SARANA untuk MENEGUR KITA. Dia memakai bos kita yang galak. Dia memakai kondisi penjualan yang sulit. Dia memakai kebiasaan buruk kita, yang ingin kita buang tapi tidak pernah berhasil. Dia memakai orang-orang terdekat, orang tua, istri, anak, untuk mengingatkan kita.

Tuhan mengasihi kita, melalui berbagai cara. Bodohlah jika kita tidak mendengar dan menafikan peringatanNYA. Tugas saya, sebagai pemimpin, adalah menjadi SAHABAT untuk mengingatkan suara-suara Tuhan yang selalu disuarakan kepada teman-teman ini, agar mereka sadar, melihat dengan jelas bahwa Tuhan itu baik, selalu memberi kesempatan, namun jika mereka tidak bertobat, resiko sudah menanti.

2. Membawa pribadi dan nama-nama mereka satu persatu dalam DOA. Ketika saya tidak mampu mengasihi seseorang, melalui DOA, melalui mengucapkan nama orang tersebut kepada Bapa saya di Surga, disitulah saya dimampukan mengasihi orang tersebut. Dari situlah, Tuhan membuka hati saya untuk care kepada orang tersebut.

3. Minta tolong pada TUHAN, untuk memberi saya hati seorang pelayan, yang peduli. Mau mengasihi, rela berkorban. Minta tolong kekuatan menjadi teladan. Minta tolong agar berhasil menularkan SIKAP yang benar dalam memandang hidup dan pekerjaan.


No comments:

Post a Comment